Menilik Tarian Ruwat Jangkrik Kentir Khas Timur Merapi

RADARSOLO.ID – Tari Jangkrik Ngentir, tak hanya menjadi hiburan rakyat untuk pelipur batin. Tari ini menjadi pertunjukan sakral untuk acara ruwatan. Seperti apa?

RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo

Begitu gending ditabuh, dua penari yang memerankan pentul temben mulai menari. Satu memakai topeng putih dengan balutan baju lurik berbalut selendang dan tapih jarik. Disusul pentul tembem dengan tongkat ikut menari. Baru beberapa putaran, mereka kembali. Menarik sapi hitam yang ditarikan dua orang serta membawa pecut ditangan kanan. Disabet-sabetkan pada sapi lembu agar patuh.

Riuh sorak masyarakat yang menonton tak kalah seru. Apalagi ketika penari jingkrakan alias kuda lumping meramaikan Tari Jangkrik Ngentir ini. Berpenampilan serba kuning dengan riasan mencolok. Alis hitam dengan pipi merah lengkap dengan kumis tebal. Ditambah aseksoris ikat kepala batik yang terdapat bulu ayam dibagian belakang. Seolah menggambarkan prajurit berkuda yang gagah dan berani.

Begitu gending ditabuh, penonton mulai antusias. Seketika jalan penghubung Cepogo-Ampel di Dusun Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo ini dipenuhi ratusan penonton. Ya, tarian Jangkrik Ngentir ini merupakan salah satu syarat ruwatan Prasasti Sarungga atau Wonosegoro. Salah satu tarian yang jarang ditemui.

“Tarian ini memang menjadi tari sakral. Terutama untuk acara-acara ruwatan seperti ini. Karena tari ini diambil dari sebuah perjalanan hidup atau jawanya, lelakoning urip dari masyarakat kanun atau orang yang belum mengenal peradaban dan agama,” jelas Slamet Seno, sesepuh Kelompok Tari Sri Budi Utomo asal Sidotopo, Desa Cabean Kunti, Kecamatan Cepogo.

Tak adanya peradaban dan agama yang membuat masyarakat saat itu hidup seenaknya. Hingga perasaan gundah membawa masyarakat kanun untuk mencari jati diri dan ketuhanan melalui pitutur atau petunjuk. Hal itu diekspresikan dengan memuja pohon besar, gunung dan lainnya. Di masa ini masyarakat kanun mulai mengenal animisme dan dinamisme.

“Mereka (kanun) juga mengekspresikan dengan tarian atau jejogetan. Jangkrik sendiri bisa berasal dari jingkrakan (joget). Saat itu ada masa ketika manusia dalam kondisi suwung atau kosong. Lalu kerasukan roh leluhur dan muncullah wangsit atau pitutur. Pesan-pesan dari roh leluhur itu mengandung pitutur yang bermanfaat,” jelasnya.

Tarian ini sudah menjadi tarian khas lereng Merapi-Merbabu yang dibalut dengan kearifan lokal. Tarian ini menggambarkan peradaban manusia dalam mencari sejatining urip. Tarian ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat tapi juga mengandung makna spiritual.

“Tapi juga tari untuk ruwatan atau acara sakral. Karena kita lihat tahunnya untuk prasasti ini, ternyata nyambung dengan tari ini. Ruwatan itu untuk menghilangkan sengkala,” jelasnya.

Pakem tarian ini juga sama. Menampilkan pentul tembem, disambut sapi lembu baru empat penari jingkrakan. Kemudian gending yang dimainkan. Tarian dimulai dimulai dengan tatapan, di mana penari harus pujian atau berdoa dengan tembang khusus. Dilanjutkan dengan gerakan singgiran, nggordo, andean, prapatan, kecik dan playon.

Sedangkan gending yang ditabuh tidak ada yang khusus. Penampilan tadi membawa gending lir-ilir, gugur gunung, semut ireng, dan lesung jumembleng. Hanya musiknya ada dua versi. Pertama bersi badhe tiga dan untuk versi lama menggunakan badhe empat jika penari butho dimainkan. Kuda lumping yang dipakai pentas pun tidak sembarangan.

Kuda lumping sudah berumur empat generasi. Masyarakat Sidotopo, Caben Kunti, Cepogo ini selalu merawat dengan baik. Jika rusak maka dilakukan ritual pemindahan ke anyaman bambu kuda lumping hitam baru. Kemudian lama penampilan tarian ini menyesuaikan kondisi waktu, penonton dan permintaan. Bisa berkisar satu jam.

Sayangnya, regenerasi penari Jangkrik Ngentir tinggal segelintir. Karena tarian ini tergusur dengan tarian modern yang lebih diminati anak muda. “Untuk penerusnya dari kalangan muda kami coba sambung,” ungkapnya. (*/bun)