Ilustrasi Telegram|dok. telegrampost.com, dimuat liputan6.com
Ilustrasi Telegram|dok. telegrampost.com, dimuat liputan6.com

Pada pertengahan tahun 1990, ibunda saya tercinta berpulang ke rahmatullah. Tentu saja saya sangat sedih, karena berkat didikan dan kasih sayang almarhumah lah, saya berhasil menuntaskan pendidikan di perguruan tinggi.

Padahal, kemampuan ekonomi orang tua saya sebetulnya pas-pasan saja. Dengan segala keterbatasan, doa ibu saya yang rajin salat tahajud demi keberhasilan anak-anaknya, alhamdulillah dikabulkan Allah.

Ketika itu saya baru empat tahun menjadi warga DKI Jakarta. Sedangkan ibu saya tinggal di kota kelahiran saya, Payakumbuh, yang terletak 125 km di utara kota Padang (Sumatera Barat).

Sayangnya, saya tidak sempat menghadiri pemakaman almarhumah karena saya terlambat mendapat informasi meninggalnya sang Ibunda.

Kalau tidak salah ingat, ibu saya meninggal di hari Sabtu dan saya di kantor kebetulan mendapat giliran libur. Sebetulnya, secara resmi ketika itu masih berlaku pola enam hari kerja. Hanya hari Minggu yang libur dan Sabtu bekerja setengah hari.

Namun, kemudian ada masa transisi sebelum diterapkan pola lima hari kerja, di mana karyawan hanya masuk separuh saja di hari Sabtu. Ada yang giliran libur dan ada yang giliran masuk. 

Nah, karena libur, saya jalan-jalan dengan seorang teman ke Pasar Baru, Jakarta Pusat. Belum ada hape saat itu, makanya sepupu saya yang menerima berita meninggalnya ibu saya, bingung mau ke mana mencari saya.

Saya memang tinggal bersama sepupu itu di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, dan di rumah itu tidak ada telpon. Sepupu saya mendapat berita duka itu dari Om yang tinggal di Tebet (juga di Jakarta Selatan) yang mendapat telpon dari Payakumbuh.

Sorenya pas saya sampai di rumah dan ketemu sepupu, ia hanya mengatakan agar saya segera mencari tiket pesawat ke Padang karena ibu saya sakit keras. Rupanya ia tidak tega mengatakan kalau ibu saya sudah tiada.

O ya, selama empat tahun pertama saya di ibu kota, komunikasi antara saya dengan ibu lebih banyak dilakukan melalui surat. Perjalanan surat itu, walau sudah dibubuhi tulisan "Kilat" dengan perangko yang lebih mahal, tetap mebutuhkan 3 hingga 4 hari.

Sejak saya sekolah, ibu adalah "teman" curhat saya yang nomor satu. Tradisi itu berlanjut, meskipun saya sudah tinggal di Jakarta.

Bila saya ingin curhat, saya akan ke gedung Jakarta Theater, di mana di bagian depannya ada beberapa loket untuk menelpon interlokal atau disebut juga SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh).

Saya harus mengatur waktu agar bisa menelpon jam 21.00 WIB ke atas, karena tarif SLJJ-nya jauh lebih murah. Menelpon setengah jam pun, tidak terlalu mahal, tapi karena banyak yang antre, biasanya saya menelpon sekitar 15 menit saja.

Di rumah ibu saya belum punya telpon. Jadi, saya menelpon ke rumah sebelah yang ditinggali famili saya, lalu ibu saya akan dipanggil. 

Baru setelah ibu saya tiada, wartel (warung telepon) menjamur dan menelpon ke luar kota tak perlu harus ke Jakarta Theater. Era wartel berkanjut dengan warnet (warung internet).

Namun, semua itu berlangsung relatif tidak lama. Sejak setiap orang punya hape yang bisa diisi dengan paket internet, warnet tidak lagi seramai dulu. 

Jelaslah, betapa pesatnya perkembangan teknologi dalam berkomunikasi dalam 30 tahun terakhir ini. Padahal, pada awal dekade 1980-an, rumah tangga yang punya telepon, di Jakarta sekalipun, masih terbatas.

Waktu itu, jika ada warga yang mau pasang telpon di rumahnya, cukup lama masuk waiting list di kantor Telkom setempat. Baru di penghujung dekade 1980-an, mulai banyak rumah yang punya telpon.

Lihatlah sekarang, telepon rumah sudah tidak terpakai. Kecuali di kantor-kantor, yang masih memerlukan telpon seperti itu.

Sampai dengan tahun 1980-an, karena tidak gampang menelpon, padahal berkirim kabar dengan surat butuh waktu lama, untuk mengirim berita sangat penting dan mendesak, dikenal yang namanya telegram.

Ketika saya masih sekolah, saya beberapa kali disuruh ayah saya ke kantor Perumtel (sekarang namanya Telkom Indonesia) untuk berkirim telegram.

Karena mahal, tarifnya dihitung per kata, maka kalimatnya harus ringkas tanpa kalimat basa-basi, tapi masih cukup jelas. Umpamanya seperti ini: "Harap ananda pulang segera, ibunda sakit keras". 

Telegram tersebut di kemudian hari berkembang jadi mesin faksimili untuk mengirimkan surat melalui jaringan telepon.

Tulisan saya ini sebetulnya semacam tambahan dari tulisan saya sebelumnya, yang menyatakan bahwa tanpa internet dunia terasa seperti kiamat. Selengkapnya dapat dibaca di sini.

Lalu, tulisan di atas ditanggapi Pak Felix yang kalau saya tulis ulang dengan kalimat saya sendiri kira-kira seperti ini: "di zaman dulu, tanpa internet tetap terasa nikmat".

Saya jadi merenung, ketika belum ada internet, kayaknya biasa saja, para anak muda tetap ceria, nongkrong di tempat tertentu menggoda cewek yang lewat. Sekarang, mereka nongkrong di kafe, tapi masing-masing sibuk dengan gawainya.

Begitulah, setelah mengenal internet, lalu semua orang terhubung, ketergantungan terhadap internet menjadi tak terhindarkan. Itulah yang membuat saya mengibaratkan tanpa internet dunia terasa seperti kiamat.

Inikah jebakan teknologi atau paradoks dari kemajuan zaman? Disebut jebakan, karena ada bisnis raksasa di belakang itu. Ada pula bisnis big data dan ada pula bisnis pencurian data.

Dan, kita semuanya, terperosok dalam jebakan itu tapi dengan perasaan tidak ingin keluar dari perangkap itu. Inilah jebakan nikmat yang bikin ketagihan.

Ilustrasi Telegram|dok. telegrampost.com, dimuat liputan6.com.

Penulis : Irwan Rinaldi Sikumbang