Sebagian besar kasus cacar monyet atau Monkeypox baru-baru ini telah diidentifikasi diantara pria gay, biseksual, dan pria lain yang berhubungan seks dengan sesama pria

SIAPGRAK.COM, CAPE TOWN - Pakar masalah penyakit di Afrika Selatan tidak melihat adanya urgensi terkait kampanye vaksinasi massal terhadap cacar monyet (Monkeypox).

Mereka meyakini bahwa kasus ini tidak akan meledak dengan cara yang sama seperti virus corona (Covid-19).

Dikutip dari laman Al Jazeera, Kamis (26/5/2022), benua Afrika baru-baru ini tidak mencatat kasus Monkeypox yang dikonfirmasi atau dicurigai.

Padahal infeksi virus yang biasanya tergolong ringan itu telah menjadi endemik di beberapa wilayah Afrika Barat dan Tengah.

SIAPGRAK.COM

Kendati demikian, otoritas kesehatannya mulai meningkatkan kewaspadaan setelah lebih dari 200 kasus virus yang dicurigai dan dikonfirmasi, telah terdeteksi pada setidaknya 19 negara termasuk Spanyol, Israel dan Amerika Serikat (AS) sejak awal Mei ini.

"Saat ini kami tidak memerlukan vaksinasi massal untuk Monkeypox. Ada banyak hal yang harus kami selidiki dari sudut pandang epidemiologis," kata Direktur Eksekutif Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD) Afrika Selatan, Adrian Puren pada Rabu kemarin.

Sementara itu Jacqueline Weyer dari NICD's Center for Emerging, Zoonotic and Parasitic Diseases, mengatakan bahwa sejauh ini tidak ada yang aneh dengan kemunculan Monkeypox.

"Tidak ada yang belum pernah kita lihat sebelumnya dalam wabah Monkeypox di luar Afrika, kecuali bahwa itu sekarang terjadi di tempat yang berbeda," jelas Weyer.

Ia menekankan bahwa Monkeypox tidak menular seperti virus yang menyebabkan Covid-19.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa mereka berharap dapat mengidentifikasi lebih banyak kasus Monkeypox dan memperluas pengawasan di negara-negara di mana penyakit itu biasanya tidak ditemukan.