SIAPGRAK.COM - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan industri Perbankan masih melanjutkan pemulihan kinerja. Ini tercermin dari data regulator yang menunjukkan kredit perbankan tumbuh 9,10% year on year (yoy) di April 2022.

Secara sektoral, kredit sektor pertambangan dan manufaktur mencatatkan kenaikan terbesar secara mtm masing-masing sebesar Rp21,5 triliun dan Rp20,8 triliun. Sementara, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 10,11% yoy.

Secara profil risiko, Perbankan masih mampu menjaga kualitas kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross di level 3,00%. Sedangkan NPL net setelah melakukan pencadangan berada di level 0,83%.

“Sementara itu, likuiditas perbankan berada pada level yang memadai. Rasio alat likuid atau non-core deposit dan alat likuid/DPK per April 2022 terpantau masing-masing pada level 131,21% dan 29,38%, di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%,” ujar Deputi Komisioner Humas dan Logistik Anto Prabowo pada Rabu (25/5).

Lanjutnya, perbankan dinilai dapat memenuhi peningkatan GWM lanjutan sebesar 1% per Juni 2022 dengan likuiditas yang dipandang masih memadai. Hal ini guna menyalurkan kredit dalam rangka melanjutkan momentum pemulihan ekonomi.

Dari sisi permodalan, perbankan di Tanah air masih terbilang relatif kokoh dan memadai. Terbukti rasio kecukupan modal minimum atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan berada di posisi 24,32%.

Kendati demikian, OJK mencermati tantangan global masih belum sepenuhnya reda. Peningkatan kinerja intermediasi tersebut terjadi di tengah perekonomian global yang masih menghadapi tekanan inflasi yang persisten tinggi dan telah mendorong pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh mayoritas bank sentral dunia.

Konflik Rusia-Ukraina serta terganggunya global supply chain akibat lockdown di Tiongkok terus mendorong kenaikan harga komoditas terutama energi dan pangan. Kenaikan inflasi yang diikuti oleh pengetatan kebijakan moneter global telah meningkatkan potensi terjadinya hard landing sehingga meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global dan terjadinya outflow dari pasar keuangan emerging markets.

Namun demikian, kinerja perekonomian domestik masih terjaga terlihat dari rilis PDB triwulan I-2022 yang terpantau sebesar 5,01 persen yoy diikuti dengan peningkatan kinerja mayoritas perusahaan publik di periode yang sama.

Indikator ekonomi high frequency juga terpantau masih positif, mengindikasikan berlanjutnya pemulihan ekonomi. Selain itu, Pemerintah juga telah menaikkan anggaran subsidi energi menjadi Rp443,6 triliun, terbesar sepanjang sejarah.